Saat mendengar kata "disiplin" kebanyakan dari kita mengasosiasikan dengan tata tertib, patuh pada peraturan, teratur, hukuman, kepatuhan. Seringkali kita terbayang pada ketidaknyamanan saat mendengar kata disiplin. Padahal makna asli dari kata disiplin sungguh sangat jauh berbeda. Disiplin positif tidak selalu berhubungan dengan hukuman. Justru hukuman adalah langkah terakhir yang kalau bisa tidak usah digunakan.
Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia dalam buku Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470) menyatakan bahwa
“dimana ada kemerdekaan,
disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self
discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya,
tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline,
wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah
harus ada di dalam suasana yang merdeka."
Menurut Ki Hajar Dewantara syarat utama menciptakan murid yang merdeka adalah adanya disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud oleh Ki Hajar Dewantara adalah disiplin diri yang muncul dari dalam diri sebagai motivasi internal. Jika seseorang tidak memiliki motivasi internal untuk disiplin maka kita memerlukan orang lain untuk mendisiplinkan kita. Hal ini disebut motivasi eksternal.
Sebagai pendidik dan orangtua, tentunya kita ingin menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku baik dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.tips
membangun budaya positif di lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggal
saya, tips memenangkan hati anak, yang membuat anak patuh pada guru namun tetap
bahagia dan bebas berkarya sesuai bakat dan minat mereka.