Jumat, 11 Februari 2022

Tips and Trick Membangun Budaya Positif di Sekolah

Hai, Sahabat Farista! Semoga kamu dalam keadaan sehat, ya!

Alhamdulillah, saat ini Pendidikan Guru Penggerak sudah sampai pada akhir modul 1. Kami mendapat tugas untuk menyebarluaskan cara membangun budaya positif di sekolah pada rekan-rekan semua.
Memang seharusnya seperti itu, sebuah ilmu baik tidak boleh hanya disimpan sendiri namun harus disebarluaskan agar kebermanfaatan makin bertambah.

Mari kita menuju topik utama!

Memiliki lingkungan berbudaya positif adalah impian dari seluruh manusia normal untuk tumbuh menjadi manusia berkarakter baik. Membangun budaya positif, terutama di sekolah, bukan sebuah proses sihir abrakadabra yang langsung jadi, namun pembangunan budaya positif membutuhkan waktu yang mungkin tidak sebentar dan butuh tenaga, pengertian, rasa tenggang rasa, serta kerjasama dari seluruh pihak yang ada di sekolah. Mulai dari guru, kepala sekolah, penjaga sekolah, walimurid, siswa, juga komite sekolah. Dalam membangun budaya positif di sekolah harus memiliki program dan tujuan yang jelas, terukur, dan terarah. Mengapa? Agar goal kita (budaya positif) tercapai dan waktu tidak terbuang sia-sia. 

Setelah membaca paragraf di atas, mari kita sepakati bahwa budaya positif maksudnya LINGKUNGAN yang memiliki budaya yang memberdayakan dan membangun dalam artian yang serba positif!

Ki Hajar Dewantara dalam bukunya Dasar-Dasar Pendidikan Keluarga, Th. I No.1,2,3,4., Nov, Des 1936., Jan, Febr. 1937 mengatakan bahwa guru ibarat petani yang dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan yang lainnya.”
Alangkah indahnya analogi yang diberikan Ki Hajar Dewantara dalam bahasannya tentang hubungan guru dan siswa. Guru ibarat petani, sedangkan siswa ibarat tanaman. Petani hanya dapat menuntun tumbuhnya tanaman. Jika suatu saat tumbuhnya si tanaman menemui kendala, petani hanya dapat  memerbaiki lingkungan tempat tumbuhnya tanaman, bukan mencabut tanaman begitu saja. Petani pun tidak dapat memaksa padi tumbuh sebagai rumput, atau tumbuh sebagai tanaman lain. Sebab setiap tanaman memiliki kodrat tumbuhnya sendiri. Begitu pula anak dan siswa kita. Mereka memiliki kodrat tumbuh masing-masing dimana kita tak bisa memaksa mereka menjadi sesuatu yang kita inginkan.

Coba perhatikan kalimat yang penulis highlight merah. Seperti itulah peran kita sebagai guru. Kita tidak dapat memaksa seorang siswa kita tumbuh menjadi seperti siswa yang lain karena setiap siswa memiliki kodratnya masing-masing, memiliki keunikan yang tak bisa disamakan atau dipaksa menjadi orang lain. Yang bisa kita lakukan hanyalah menuntun tumbuh kembang siswa agar lakunya menjadi terarah tetap di jalan kebaikan, menumbuhkan keyakinannya pada hal positif agar lakunya menjadi positif pula. Jika suatu saat siswa kita melenceng, tugas kita hanyalah menuntunnya kembali, menumbuhkan keyakinannya pada kebaikan-kebaikan agar tumbuh pula laku baiknya.

Berbicara tentang budaya positif berarti kita membicarakan tentang displin. Kebanyakan dari kita ketika mendengar kata disiplin akan muncul bayangan kepatuhan, peraturan, pemaksaan, hukuman. Benar? Ya, sebagian besar dari kita akan berpikir seperti itu.

Berikutnya, bagaimana cara menumbuhkan budaya positif?

Ada beberapa poin pemahaman yang harus dicermati dalam membangun budaya positif, yaitu:
  1. Penyamaan persepsi tentang DISPLIN
  2. Konsep perubahan paradigma stimulus - respon dan teori kontrol
  3. Teori motivasi perilaku manusia
  4. Motivasi internal dan eksternal
  5. Hukuman dan penghargaan
  6. Lima kebutuhan dasar manusia
  7. Lima posisi kontrol guru
  8. Segitiga restitusi

Mari kita bedah satu per satu untuk menambah pemahaman kita.. Pastikan rekan-rekan membacanya hingga akhir untuk mendapatkan pemahaman yang utuh dan mempermudah dalam membangun budaya positif di sekolah..

1. Penyamaan Persepsi tentang Disiplin
Ketika mendengar kata disiplin, apa yang terbayang di benak kita? Ya, kepatuhan, keteraturan, harus, beraroma kemiliteran, dan mengarah pada pemaksaan. Disiplin yang menekan, menimbulkan keterpaksaan. Kadang hasilnya pun biasa saja karena bukan berasal dari hati. Paradigma lama kita terbentuk seperti itu. Saya pun juga. Paradigma lama kita tentang disiplin adalah disiplin yang negatif. Jika ada disiplin negatif, berarti ada DISIPLIN POSITIF, dong? Ya. Dan  itu yang akan kita bahas secara mendalam dalam belajar kita kali ini.

Setelah mengikuti Pendidikan Guru Penggerak, paradigma saya tentang disiplin mulai bergeser. Pendidikan Guru Penggerak mampu meruntuhkan paradigma lama karena paradigma baru ternyata lebih humanis. 

Konsep Perubahan Paradigma Stimulus - Respon dan Teori Kontrol
Dulu,