Selasa, 21 Desember 2021

Mendisiplinkan Siswa? Pakai Restitusi Aja!

Salam Damai untuk Para Pembaca Semua 😊

Materi Pendidikan Guru Penggerak terus bergulir. Saat ini kami sudah sampai pada modul 1.4 tentang Budaya Positif. Di materi ini kami tak henti-hentinya terhenyak mengingat kesalahan-kesalahan yang selama ini kami lakukan dengan dalih "mendisiplinkan siswa".

Makna Disiplin

Saat mendengar kata "disiplin" kebanyakan dari kita mengasosiasikan dengan tata tertib, patuh pada peraturan, teratur, hukuman, kepatuhan. Seringkali kita terbayang pada ketidaknyamanan saat mendengar kata disiplin. Padahal makna asli dari kata disiplin sungguh sangat jauh berbeda. Disiplin positif tidak selalu berhubungan dengan hukuman. Justru hukuman adalah langkah terakhir yang kalau bisa tidak usah digunakan.

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia dalam buku Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka,  Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470)  menyatakan bahwa 

“dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka."

Menurut Ki Hajar Dewantara syarat utama menciptakan murid yang merdeka adalah adanya disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud oleh Ki Hajar Dewantara adalah disiplin diri yang muncul dari dalam diri sebagai motivasi internal. Jika seseorang tidak memiliki motivasi internal untuk disiplin maka kita memerlukan orang lain untuk mendisiplinkan kita. Hal ini disebut motivasi eksternal.

Sebagai pendidik dan orangtua, tentunya kita ingin menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku baik dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.


tips membangun budaya positif di lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggal saya, tips memenangkan hati anak, yang membuat anak patuh pada guru namun tetap bahagia dan bebas berkarya sesuai bakat dan minat mereka.




Minggu, 05 Desember 2021

Tanda Cinta untuk Guru

Apakah teman-teman punya kontak whatsapp atau sosmed lain yang berprofesi sebagai guru? Apa yang terjadi pada unggahan mereka pada tanggal 25 November kemarin?


Tanggal 25 November, status whatsapp penuh dengan unggahan istimewa. Para punggawa pendidikan berseragam batik hitam putih PGRI berlomba-lomba memberitahukan pada khalayak ramai via sosial media tentang kejutan yang mereka terima dari para siswa. Terharu hati ini melihat unggahan mereka.

Tanggal 25 November lazim diperingati sebagai Hari Guru Nasional di Indonesia. Para guru akan berseragam batik PGRI lalu mengadakan upacara.

Tau gak sih, sebenarnya penetapan Hari Guru Nasional memiliki sejarah yang cukup panjang. Peringatan Hari Guru Nasional awalnya dimulai tahun 1994 sesuai Keputusan Presiden Soeharto saat itu. Ada dua hal yang mendasari ditetapkannya Hari Guru Nasional menurut Keppres no.78 tahun 1994 yaitu:
1. Guru memiliki kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan nasional.
2. Tanggal tersebut diperingati sebagai hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia dan sebagai upaya untuk mewujudkan penghormatan kepada guru.

Namun jauh sebelum ditetapkannya Keputusan Presiden pada tahun 1994, sesungguhnya persatuan guru sudah ada sejak sebelum kemerdekaan kita. Tepatnya tahun 1912 berdiri Persatuan Guru Hindia Belanda (saat itu belum ada nama Indonesia secara resmi). Setelah PGHB terbentuk, muncullah oraganisasi-organisasi keguruan yang lain. Ruh organisasi guru ini sama, ingin memerbaiki kehidupan dan mencapai kemerdekaan. Hingga pada tanggal 24-25 November 1945, 3 bulan setelah proklamasi kemerdekaan, berbagai organisasi guru berkumpul di Surakarta mengadakan kongres lalu terbentuklah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).


Itulah sejarah dimulainya peringatan Hari Guru Nasional di negeri kita. Lalu bagaimana peringatan Hari Guru Nasional di kelas Penulis?
Uuuuh terharu sekali, sampai sukses dibuat mewek oleh anak-anak tercinta.
Jauh-jauh hari mereka sudah merencanakan peringatan Hari Guru di belakang gurunya. Sungguh tulus rasa cinta mereka pada guru.. Semoga Allah beri mereka ilmu yang barokah, perjalanan hidup yang smooth, dan semoga menjadi generasi yang membanggakan para guru dan orangtuanya.


Yuk, simak tanda cinta dari mereka untuk guru di video ini.
Dalam video ini, para siswa membacakan puisi yang dibuat secara spontan. Saya tidak mengoreksinya, tidak mengedit sedikit pun. Keren ya, mereka 😍



Senin, 29 November 2021

Menyusun Visi Guru Sarat Makna a la Pendidikan Guru Penggerak

Salam Pendidikan!

Berbicara tentang pendidikan tak akan pernah lepas dari unsur utama: guru dan siswa. Guru dan siswa adalah tokoh utama dalam pendidikan. Siswa tanpa guru maupun sebaliknya guru tanpa siswa tak akan pernah ada kegiatan pendidikan, terutama dalam dunia pendidikan formal. Guru memiliki peran besar dalam pendidikan formal. Bisa dikatan guru adalah pemeran utama di garda terdepan pendidikan formal. Oleh karena itu seorang guru wajib memiliki pengetahuan yang luas dan akhlak yang santun. Lalu timbul pertanyaan, mengapa seorang guru harus memiliki pengetahuan yang luas dan akhlak yang santun? Sebab guru adalah teladan, motivator, fasilitator, dan pemimpin pembelajaran.

Jika Penulis lihat sekolah-sekolah yang melahirkan manusia-manusia berkualitas, sebagian besar faktor utama yang Penulis temukan adalah adanya SDM mumpuni dan berintegritas di sekolah tersebut. Memang, keberhasilan sebuah sekolah ditentukan oleh SDM-nya, terutama kualitas guru yang berhadapan langsung dengan siswa. Seperti apa guru yang berkualitas? Salah satu ciri guru yang berkualitas adalah memiliki visi dan misi untuk siswanya.

Visi berasal dari bahasa inggris vision yang artinya penglihatan, daya lihat, pandangan, impian, bayangan masa depan. Arti yang kita pakai dalam visi ini adalah impian dan bayangan masa depan. Seorang guru harus memiliki visi akan menjadi seperti apa dirinya kelak, akan memberikan treatment seperti apa pada siswanya, akan menjadi seperti apa siswa di dalam kelasnya kelak. Visi ibarat papan sasaran anak panah yang membantu guru meraih impiannya. Visi juga ibarat penunjuk arah yang mengarahkan guru agar tidak tersesat ke jalan yang salah dalam mendidik siswanya.

Visi itu penting adanya. Setiap orang pasti memiliki visi tentang dirinya di masa depan. Demikian juga seorang guru. Guru wajib memiliki visi yang terkait dengan profesinya. Selain visi pribadi terkait integritas individu, guru juga harus memiliki visi yang diturunkan dari visi sekolah. Visi yang selaras dengan visi sekolah inilah yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Sebelum membuat visi mengajarnya, guru harus hafal, minimal tahu pada visi sekolah.

Di lembaga tempat Penulis mengabdi, tertulis dengan huruf ukuran besar visi lembaga kami: MANDI BUSA, akronim dari kata beriman, terdidik, berbudi dan santun. Berangkat dari visi tersebut lalu Penulis membuat visi mengajarnya khusus untuk lembaga ini, yaitu memandu peserta didik menjadi manusia yang bangkit rasa spiritualnya, cerdas, siap melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, dan berakhlak mulia.

Saatnya para pembaca menjawab, apakah visi anda sebagai seorang guru?

  • Visi Seorang Guru Penggerak
Guru Penggerak merupakan "spesies" baru dalam dunia pendidikan saat ini. Aksi nyatanya sedang ditunggu jutaan siswa Indonesia. Seorang guru penggerak sebagai motor pembaharu dalam pendidikan Indonesia dituntut kesediannya untuk bergerak menularkan segala hal yang telah diperoleh dalam Pendidikan Guru Penggerak.

Memasuki pekan kelima, kami para Calon Guru Penggerak (CGP) masuk pada materi Visi Guru Penggerak. Kami dibimbing untuk menggali dan mewujudkan visi berdasarkan aset yang kami miliki dalam diri dan lingkungan di daerah kami. Visi merupakan pondasi bagi gerak kami dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak pada murid di daerah kami, maka visi bernilai penting bagi seorang guru penggerak dalam laku didiknya.

Ada 3 langkah yang harus dilalui untuk membuat visi yang sarat makna:

1. Menentukan Impian
Impian saya tentang pendidikan terhadap anak didik saya:
  • Saya memimpikan murid-murid yang bisa belajar dengan riang dan merdeka sesuai bakat dan minat mereka tanpa adanya tekanan
  • Sekolah saya percaya bahwa murid adalah asset masa depan bangsa yang merdeka, yang mampu hidup mandiri dan berdikari tanpa tergantung pada orang lain dan bangsa lain
  • Sekolah saya mengutamakan pelayanan optimal pada siswa dalam memenuhi ekspektasi para walimurid dan stakeholders.
  • Murid di sekolah saya sadar betul bahwa mereka berbeda satu sama lain dengan keunikannya masing-masing sehingga mereka percaya para guru akan memerlakukan mereka dengan penuh kasih
  • Guru di sekolah saya yakin untuk membimbing siswa sesuai dengan kodratnya dan menciptakan lingkungan yang nyaman dan kondusif bagi siswa
  • Guru di sekolah saya paham bahwa pendidikan adalah tuntunan untuk menghantarkan siswa menjadi Profil Pelajar Pancasila sehingga kami harus berkolaborasi dan berkomitmen untuk mewujudkannya.

Untuk memermudah pembaca menyusun impian sebagai guru a la guru penggerak, berikut Penulis sertakan pertanyaan pemantik.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan tersebut di kolom komentar agar pembaca lain bisa merasakan vibrasi positif Anda. Sebuah visi yang dilihat dan diaminkan banyak orang in syaa Allah akan lekas terwujud.


Daftar pertanyaan untuk menggali dan menciptakan visi:
  • Saya memimpikan murid-murid yang …………………………………….
  • Sekolah saya percaya bahwa murid adalah ……………………………
  • Sekolah saya mengutamakan ……………………………………….
  • Murid di sekolah saya sadar betul bahwa ………………………….
  • Guru di sekolah saya yakin untuk ……………..………………….
  • Guru di sekolah saya paham bahwa ……………………………….


2. Memetakan Kekuatan
Langkah selanjutnya memetakan kekuatan yang ada di sekolah.
Berikut adalah kekuatan yang dimiliki oleh lembaga tempat penulis mengabdi.




Di atas, Penulis telah memaparkan visi pribadi dalam mengabdi di lembaga tempat Penulis berkarya nyata, yaitu memandu peserta didik menjadi manusia yang bangkit rasa spiritualnya, cerdas, siap melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, dan berakhlak mulia. Namun setelah mengikuti Pendidikan Guru penggerak, visi Penulis sebagai guru mengalami sedikit evaluasi positif menjadi memandu peserta didik menjadi manusia yang bangkit rasa spiritualnya, termotivasi secara intrinsik untuk menjadi lebih baik, berkinerja optimal secara akademis dan akhlak, dan terus bertumbuh menjadi Pelajar Pancasila.


Visi baru Penulis tersebut selaras dengan visi lembaga, selaras pula dengan Pancasila. Visi baru juga selaras dengan goal akhir Pendidikan Guru penggerak yaitu menciptakan  Profil Pelajar Pancasila. Lewat visi tersebut kemudian dirancang pembelajaran yang berpihak pada murid. Dirancang pula kegiatan-kegiatan yang mendukung pada tercapainya visi. Sekolah sebagai tempat terjadinya rangkaian kegiatan juga disulap menjadi tempat yang aman, nyaman dan kondusif bagi tercapainya visi.

Tak hanya Penulis sebagai Calon Guru penggerak yang memiliki visi, seluruh guru di lembaga juga wajib memiliki visi yang selaras dengan visi sekolah dan visi pendidikan nasional. Seluruh guru dan civitas academica wajib berkolaborasi, bahu-membahu menciptakan suasana belajar yang berpihak pada murid.

3. Eksekusi
Jadi, selamat menyusun visi baru bagi rekan sejawat sekalian demi terwujudnya pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Jumat, 19 November 2021

Apa yang Kau Dapat dari Pendidikan Guru Penggerak? (Part 2)

Salam Bahagia, Semoga Keselamatan dan Rahmat Allah untuk Para Pembaca Sekalian..

Terhitung satu bulan sudah kami digembleng di kawah candradimuka Pendidikan Guru Penggerak. Semakin banyak yang didapatkan, semakin sadar Penulis bahwa ilmu Allah tentang pendidikan formal masih banyak yang harus dipelajari. Hasil dari pendidikan yang masih berlangsung akan Penulis bagikan secara berkala di blog ini. Maka ikuti terus ya.. 😊 

1. Pemahaman yang Makin Dalam tentang Pendidikan

Secara umum, definisi pendidikan menurut UU RI No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I, Ketentuan Umum Pasal 1, No.1 merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 

Berangkat dari definisi tersebut dapat kita tarik garis besar bahwa pendidikan itu merupakan sebuah pekerjaan yang membuat guru menjadi desainer suatu peristiwa yang bertujuan agar siswa mendapat pengalaman belajar secara utuh. Peristiwa yang didesain guru bukanlah peristiwa yang tanpa makna, namun sebuah peristiwa yang melatih  cipta, rasa karsa, dan karya dalam diri siswa. Siswa secara sengaja dibuat bisa mengambil makna positif dari setiap peristiwa yang dirancang guru.

Di dalam peristiwa yang dirancang secara sengaja tersebut, Guru harus menanamkan nilai penting dalam diri siswa agar menjadi manusia yang merdeka, agar hidup siswa di masa depan kelak menjadi manusia yang dapat menghidupi dirinya secara lahir dan batin tanpa bergantung pada manusia lainnya (mandiri dan berdikari -berdiri di atas kaki sendiri-. Sungguh beratlah sebenarnya menjadi merdeka itu, karena selain harus mampu mengatur diri sendiri juga harus mengatur agar kemerdekaan diri tidak mengganggu kemerdekaan manusia merdeka lainnya. Guru harus secara sengaja menghidupkan nilai dalam batin siswa tentang adanya Dzat yang dapat menopang kehidupannya yang bernama Tuhan. Guru juga harus mampu membangkitkan rasa kesadaran dalam diri siswa untuk senantiasa berbuat baik pada manusia lain dan lingkungan sekitarnya, yang kita kenal sebagai akhlak atau budi perkerti baik. Produk dari sebuah pendidikan yang baik dapat dilihat dari baiknya siswa. 

Dilihat dari tiga paragraf di atas, sedemikian nampaklah bahwa sungguh berat beban yang dipikul seseorang bertitel GURU. Ada tanggung jawab besar yang harus dipikul. Kebagusan akhlak dan kemandirian sebuah bangsa terletak pada bagaimana cara guru di negeri tersebut mendidik siswanya.  Oleh karena beban berat itulah maka dibuatlah sebuah panduan bernama kurikulum pendidikan. Di dalam kurikulum pendidikan dijabarkan apa saja beban belajar yang harus dilalui siswa agar mencapai kompetensi-kompetemsi tertentu, baik kompetensi secara kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Mari kita cek fakta pendidikan pada diri kita sebagai guru dengan menjawab pertanyaan berikut! Izinkan penulis menggunakan kata Anda. Bukan untuk menghakimi, namun semata agar mudah masuk ke dalam diri kita sendiri dan melakukan introspeksi.
  1. Apakah Anda sudah merancang peristiwa di dalam kelas dan sekolah yang dapat membangkitkan rasa sadar sebagai hamba pada diri siswa? 
  2. Apakah Anda sudah merancang peristiwa di dalam kelas dan sekolah yang dapat melatih kecerdasan dan potensi siswa?
  3. Apakah di dalam kelas dan sekolah Anda sudah melatih keterampilan yang dibutuhkan siswa untuk hidupnya kelak?
  4. Apakah Anda hanya berbicara dan berceramah saja pada siswa saat mengajar?
Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut Anda jawab dengan kata YA, maka Penulis ucapkan selamat, Anda benar-benar guru sejati yang dibutuhkan negeri ini. Namun jika jawabannya adalah BELUM, mari bersama-sama kita akui kesalahan kita dan berkolaborasi memperbaiki sistem pendidikan di sekolah kita. 

Menurut Ki Hajar Dewantara, untuk bisa memberikan pendidikan dan pengajaran terbaik, guru harus menguasai 5 ilmu:
  1. ilmu hidup batin (psikologis)
  2. ilmu hidup jasmani (fisiologis)
  3. ilmu kesopanan (etika)
  4. ilmu keindahan (estetika)
  5. ilmu pendidikan (paedagogis)

2. Nilai dan Peran Seorang Guru Penggerak

Kita sebagai guru berperan besar dalam memberikan bekal kehidupan pada diri siswa. Segala perlakuan yang kita lakukan di kelas dan sekolah akan membekas dalam ingatan dan sanubari siswa. Atau bahkan hilang sama sekali, tak berbekas. Kita berperan dalam membentuk akhlak siswa. Bantuan kita berperan besar bagi siswa dalam menemukan jati diri mereka. Kita turut andil dalam membentuk siswa menjadi versi terbaik mereka.

Bagaimana cara memasukkan pendidikan karakter pada siswa hingga ke tingkat DNA-nya? Ada beberapa cara yang telah dilaksanakan oleh Penulis. Pembaca boleh mengritisi dan menambahkan di kolom komentar.
a. ketahui cara kerja otak kanan dan kiri lalu manfaatkan
b. ketahui bagian-bagian otak manusia lalu manfaatkan
c. bermainlah dengan sistem limbik siswa lalu perlahan-lahan beralih ke neocortex

Ada banyak faktor yang memengaruhi pendidikan dan pembelajaran. Pembahasan ini membutuhkan halaman khusus, in syaa Allah akan penulis up date di postingan berikutnya. Ikuti terus blog ini ya 😉 

Dalam penggemblengan sebagai Guru Penggerak, para Calon Guru Penggerak (CGP) dilatih secara sengaja untuk menyadari nilai dan peran mereka. Adapun nilai dan peran Guru Penggerak adalah sebagai berikut:


Sumber: Modul Pendidikan Guru Penggerak

Secara hierarchichal atau berurutan, nilai yang harus ada dalam diri Guru Penggerak:
  1. Berpihak pada murid
  2. Mandiri
  3. Inovatif
  4. Kolaboratif
  5. Reflektif
Secara hierarchichal atau berurutan, peran yang harus disadari dan dipraktikkan oleh Guru Penggerak:
  1. Mewujudkan kepemimpinan murid
  2. Menjadi pemimpin pembelajaran
  3. Mendorong kolaborasi
  4. Menggerakkan komunitas praktisi
  5. Menjadi coach bagi guru lain
Kiranya sangat berhubunganlah antara Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Nilai dan Peran Guru Penggerak ini. Sebab Nilai dan peran Guru Penggerak dikembangkan dari Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara yang mengandung makna dalam bagi pendidikan di Indonesia.
Seorang Guru Penggerak harus bisa memerdekakan dirinya terlebih dahulu, terutama dalam kaitannya dengan belajar, sebab guru penggerak yang merdeka mampu berpihak pada murid, mampu  berinovasi, berkolaborasi dan berefleksi. Jika seorang Guru Penggerak berkepribadian yang lemah seperti rendah diri, bagaimana dia hendak mengajarkan kemerdekaan pada muridnya?

Guru Penggerak yang sudah paham pada nilai dirinya, hendaknya dia berperan dalam mewujudkan kepemimpinan pada siswanya, menjadi pemimpin pembelajaran yang memfasilitasi siswa, mendorong kolaborasi antar-siswa, antar-guru, bahkan hingga ke tingkat kolaborasi antar-lembaga. Wah, ini sesuatu yang menakjubkan! Guru Penggerak seyogyanya juga bisa menggerakkan komunitas praktisi bidang pendidikan untuk melakukan perbaikan, bersama-sama mengembangkan pendidikan dan menemukan inovasi pembelajaran, minimal di sekolahnya, lalu menjadi coach bagi guru lain menularkan apa yang sudah dia dapatkan dari Pendidikan Guru Penggerak.

Tujuan akhir dari Pendidikan Guru Penggerak adalah terbentuknya Profil Pelajar Pancasila pada siswa seluruh Indonesia di masa mendatang. Sudah saatnya para insan pendidikan saling berkolaborasi, mulai guru penggerak, rekan sejawat, Kepala Sekolah, Pengawas, Dinas Pendidikan, Walimurid, dan seluruh stakeholder pendidikan. Kolaborasi positif akan mempercepat terwujudnya Profil Pelajar Pancasila dan insan Indonesia yang lebih baik. Semoga!


Profil Pelajar Pancasila
Sumber: Modul Pendidikan Guru Penggerak



Untuk berkolaborasi menuju perbaikan pendidikan, penulis dapat dihubungi di Telegram @my_farishta. Bersama kita rancang dan bergerak bagaimana mewujudkan Profil Pelajar yang sesuai dengan Pancasila.


Kamis, 18 November 2021

Fungsi Guru Penggerak yang Bakal Bikin Kamu Bangga

Salam Sehat dan Bahagia!
Para Pembaca yang Budiman, ada pertanyaan yang diajukan pada penulis mengenai fungsi Guru Penggerak. Mari luangkan waktu Anda selama satu menit saja untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Pemerintah Indonesia sangat peka terhadap kondisi pelajar Indonesia yang saat ini seperti kehilangan identitas. Filter terhadap serangan budaya luar yang datangnya bagai air bah seolah banyak yang tak berfungsi. Pelajar Indonesia secara beramai-ramai, sengaja atau tidak sengaja lebih memilih mengadopsi budaya luar tersebut dengan begitu saja tanpa pilah-pilih. Filter keluarga juga seolah tak berfungsi, maka satu-satunya jalan yang bisa ditempuh secara duniawi adalah memerbaiki generasi Indonesia dimulai dari pendidikan. Pendidikan diharapkan akan menjadi filter dalam diri setiap manusia Indonesia agar pribadi keTimurannya tidak terabrasi oleh budaya lain yang secara masif melakukan penetrasi. Oleh karena itu dicetuskanlah Pendidikan Guru Penggerak yang kelak diharapkan akan melahirkan Profil Pelajar Pancasila. Menjadi bagian dari gawe besar ini sangat membanggakan, bukan? Maka segeralah siapkan diri untuk mendaftar di program ini..

Guru Penggerak digembleng selama 9 bulan untuk mencapai tujuan besar tersebut. Penggemblengan Guru Penggerak dimulai dari penyamaan visi, lalu ajakan introspeksi untuk lebih mengenal dirinya sendiri, mengetahui nilai dan perannya sebagai Guru Penggerak, mengetahui cara membentuk karakter, cara kerja otak manusia, juga materi lain yang sangat menarik dan memberikan wawasan baru. Oleh karena itu ikuti terus blog Farista Belajar karena blog ini in syaa Allah akan terus berbagi manfaat untuk para pembaca. 

Ada berbagai macam tantangan yang harus diselesaikan oleh para Calon Guru Penggerak (CGP) dalam proses penggemblengan ini, di mana gemblengan tersebut membiasakan para CGP untuk menerapkan Merdeka Belajar dan Belajar Merdeka di kelasnya nanti.
Kata MERDEKA, selain memiliki arti merdeka yang sebenarnya juga merupakan sebuah akronim.
Adapun kata MERRDEKA merupakan akronim dari:
M = Mulai dari diri
E = Eksplorasi konsep
R = Ruang kolaborasi
R = Refleksi terbimbing
D = Demonstrasi kontekstual
E = Elaborasi pemahaman
K = Koneksi antar-materi
A = Aksi nyata

Izinkan saya mengajak para Pembaca mengetahui fungsi Guru Penggerak sebelum menjadi Guru Penggerak sesungguhnya.. Mari simak video berikut!


Peran dan Nilai Guru Penggerak terhadap Pembentukan Profil Pelajar Pancasila




Minggu, 14 November 2021

Proposal Hidup dalam Peran sebagai Guru Penggerak

 Visi itu ibarat bahan bakar bagi kita. Untuk menyelenggarakan sebuah event, kita merancangnya sedemikian rupa agar event tersebut terlaksana dengan sempurna sesuai impian. Lalu mengapa kita membiarkan hidup mengalir begitu saja seperti air? Jika air mengalir ke botol minum, kita menjadi berharga. Jika air tersebut mengalir ke sumur zam-zam, sungguhlah mulia. Akan tetapi jika mengalir ke got berbau busuk, tergenang di sana selama sekian pekan? Sungguh sia-sia. Maka mari buat proposal hidup kita, sedemikian rupa sehingga arah hidup kita menjadi jelas di masa depan, menggapai prestasi tertinggi yang bisa dibanggakan di hadapan Allah.

Inilah saya, dalam peran sebagai Guru Penggerak di masa depan.



Nilai-nilai tersebut penting bagi saya karena di masa depan saya adalah katalisator pendidikan bagi Indonesia. Saya turut berperan membangun Indonesia dari desa, dari tempat tinggal saya. In syaa Allah..

Proses Pencarian Jati Diri Seorang Guru Penggerak

 Setiap manusia dilahirkan unik dan berbeda dari manusia lainnya. Perbedaan bukan untuk dicaci-maki, namun perbedaan hendaknya disyukuri karena menjadikan hidup lebih berwarna. Segala perbedaan yang kita lihat dalam semesta merupakan identitas yang mencirikan individu/organisme tersebut.

Pencarian jati diri seseorang biasanya dimulai ketika usianya memasuki usia pubertas atau belasan tahun. Di usia tersebut seseorang mulai mencari siapa dirinya, apa yang bernilai dari dirinya, apa yang membedakannya dengan individu lain, apa kelebihannya, apa yang disukainya, apa yang tidak disukainya, bagaimana dia melawan rasa malas, jika dia terpuruk bagaimana cara bangkit kembali, siapa yang pas menjadi temannya, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang akan terjawab ketika dia mampu berpikir secara reflektif. Pencarian jati diri sangat penting sifatnya karena menjadi tolok ukur seseorang dalam menjalani peran dalam kehidupan. Jika seseorang telah menemukan jati diri maka dia telah menemukan apa yang pas dengan dirinya. Dia mulai merasa nyaman dengan keadaannya, mulai menerima dirinya sendiri bagaimanapun bentuknya, tidak takut untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan orang, tidak lagi mencari validasi dari orang lain untuk membuatnya percaya diri, dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain.

Mungkin orang lain akan menilai orang yang telah menemukan jati dirinya sebagai orang yang egois karena tidak mudah dipengaruhi. Namun percayalah, hidup dengan jati diri itu membuat seseorang jadi lebih mandiri dan berdaulat atas dirinya sendiri.

Tak hanya dalam hidup, dalam pekerjaan pun kita harus menemukan jati diri kita. Kaitannya dalam hal ini adalah calon guru penggerak.

Guru Penggerak bukanlah guru biasa. Ada 5 nilai utama yang mencirikan seorang guru adalah guru penggerak. 5 nilai yang menjadi jati diri seorang guru penggerak yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid.

Diawali dari motivasi kuat dari dalam dirinya, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun, benih seorang Guru Penggerak mulai muncul. Ya, motivasi dari dalam diri. Jika motivasi itu berasal dari paksaan orang lain, nilai seorang guru penggerak bisa dikatakan kurang sempurna. Mengapa demikian? Sebab bagaimana hendak menggerakkan orang lain jika menggerakkan dirinya saja tidak mampu? Maka motivasi dari dalam diri inilah yang membuat seorang guru dikatakan bernilai MANDIRI.

Pertanyaan berikutnya, apakah pembaca memiliki nilai mandiri tersebut? Jika ya, maka saya ucapkan selamat. Rayakan munculnya motivasi dari dalam diri tersebut. Segera daftarkan diri untuk bergabung dengan Pendidikan Guru Penggerak.

Berikutnya, seorang guru penggerak adalah orang yang reflektif. Setiap hari kita pasti mendapat pengalaman baru, merasakan perasaan baru, ide baru, pikiran baru. Seseorang yang reflektif mampu memaknai pengalaman yang didapat, mengambil hikmah atau nilai moral positif, lalu melakukan perbaikan pada hal yang dirasa perlu. 

Ada banyak cara menemukan hikmah. Bisa dengan memahami peristiwa apa yang terjadi, memahami apa yang dirasakan, mendapatkan pembelajaran, lalu merencanakan apa yang dilakukan kedepannya. Bisa juga dengan mengingat-ingat apa yang terjadi dengan cara menceritakan ulang, memberikan respon yang sesuai dengan peristiwa, mengaitkan antara peristiwa yang terjadi dengan pengalaman, nilai-nilai pengetahuan, keyakinan dan lainnya, lalu menganalisis mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi, kemudian merencanakan alternatif solusi jika hal yang sama terjadi lagi di masa depan.

Selain itu, seorang guru penggerak haruslah mampu berkolaborasi membangun hubungan yang positif dengan seluruh stakeholder yang berkepentingan demi mencapai tujuan. Jika seorang guru penggerak kurang mampu berkolaborasi yang positif dengan orang lain, bagaimana tujuan hendak tercapai?

Mari kita tilik kembali dari paragraf pertama dari tulisan ini. Untuk menemukan jati dirinya, seorang guru penggerak harus memiliki kesadaran akan dirinya, mampu memotivasi dirinya sendiri, mampu melakukan refleksi dan kolaborasi, sehingga melalui keempat hal tersebut seorang guru penggerak dapat menciptakan inovasi yang berpihak pada murid.

Jika pembaca menemukan hal tersebut di dalam diri pembaca, saya ucapkan SELAMAT, ANDA ADALAH SEORANG GURU PENGGERAK SEJATI yang mampu berperan  mendorong lahirnya Profil Pelajar Pancasila di masa depan!

Step by Step Menemukan Jati Diri Sebagai Calon Guru Penggerak




Selasa, 09 November 2021

Sesuatu yang Menggerakkan Seorang Guru Penggerak

Kata Guru Penggerak sedang booming saat ini di dunia pendidikan Indonesia. Tercatat lebih dari 2000 orang guru tergerak untuk mengikutinya, saya dan rekan sejawat di sekolah diantaranya.
Dalam kegiatan yang dirancang selama 9 bulan ini kami dididik untuk menjadi guru sekaligus manajer bagi siswa. Guru yang menuntun dengan hati, sekaligus guru yang men-stimulasi cipta, rasa, karsa, dan raga siswa berdasarkan tuntutan kodrat alam dan kodrat zaman siswa.

Sebelum bergerak menjadi penggerak, seorang agent of change haruslah sadar pada nilai dirinya terlebih dahulu, memiliki pikiran dan perasaan positif tentang misi mulia yang diembannya, juga peka pada perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya. Ketika seorang guru yang berperan sebagai agen of change sudah sadar pada misi mulianya, dia akan melihat ke dalam diri dan ingatan di masa lalunya saat dia masih menjadi siswa - pelajaran apa yang paling disukainya, mengapa dia menyukai pelajaran tersebut, mengapa masih diingatnya hingga saat ini. Dari refleksi itulah seorang agent of change akan mengambil hikmah bagaimana dia hendak menggerakkan muridnya nanti.

Guru yang telah sadar pada misi mulianya dan hatinya telah tergerak, tentu dia akan mencari cara dari berbagai literatur dan ingatan masa kecilnya mengenai strategi-strategi pembelajaran yang akan membuat siswanya mengingat treatment baik dan bermakna yang mereka peroleh hingga para siswa tersebut dewasa nanti. Mari saya tanya pembaca, apakah anda mengingat kejadian bersama guru anda saat anda masih usia TK dan SD? Mengapa anda masih mengingat peristiwa tersebut? Seberapa berkesankan kejadian tersebut?
Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah karena adanya emosi yang terlibat dalam kejadian tersebut. 

Seorang guru yang telah sadar akan otoritasnya terhadap siswa tentu tak akan menyia-nyiakan hal ini. Dia akan memanfaatkan otoritas tersebut, merancang pembelajaran yang memberikan makna, yang melibatkan pancaindra siswa, yang melibatkan emosi siswa, yang memanfaatkan otak kanan dan kiri siswa dengan tujuan agar pengajarannya membekas, berkesan, dan berpengaruh hingga ke tingkah laku siswa. Ketika seorang guru telah sadar kemudian memanfaatkan otoritasnya dengan sebaik-baiknya, saat itulah dia menjadi seorang Guru Penggerak.

Rekan sejawat, selamat mengeksplorasi diri menjadi Guru Penggerak!

TERGERAK, BERGERAK, MENGGERAKKAN


Petunjuk Sederhana Menemukan Titik Sadar Sebagai Guru Penggerak
Jawablah Pertanyaan Sederhana yang Ada Dalam Video







Jumat, 05 November 2021

Apa yang Kau Dapat dari Program Pendidikan Guru Penggerak? (Part 1)

 Pertengahan Oktober 2021 lalu, saya dan rekan sejawat resmi mengikuti kegiatan Pendidikan Guru Penggerak. Hingga hari ini terbilang sudah 3 pekan kami mengikutinya. Kami menjalani tes awal (pre-test) sebelum memulai pembelajaran. Program Guru Penggerak dirancang untuk selesai dalam 9 bulan. Ada 3 modul yang harus dikuasai para Calon Guru Penggerak (CGP) sebelum kelak diwisuda sebagai Guru Penggerak.

Dalam 3 pekan ini, saya memelajari modul 1.1 yang berisi tentang pemikiran filosofis Ki Hajar Dewantara (KHD) tentang pendidikan. Semacam teori pendidikan yang dicetuskan oleh KHD. Saya terhenyak dan merasa bangga mengetahui pemikiran-pemikiran KHD yang ternyata sangat dalam dan mengandung hikmah luar biasa dalam pendidikan anak. KHD tidak hanya mementingkan perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor anak namun juga memerhatikan nilai-nilai spiritual yang telah ada dalam diri setiap anak manusia.

Penasaran seperti apa hebatnya pemikiran KHD? Mari simak video berikut! 😊





Rabu, 03 November 2021

Refleksi Pekan Kedua Kegiatan Guru Penggerak 'Merdeka Belajar' Ki Hajar Dewantara

(Refleksi Terbimbing, kode 1.1.a.6)

Salam Guru Penggerak!

Guru Bergerak, Indonesia Maju!

Pekan ini adalah pekan kedua dari kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Guru Penggerak. Kami masih memelajari modul 1.1 namun sudah ada banyak hal yang telah saya dapatkan dari program ini. Saya meyakini program Guru Penggerak ini telah menambah khazanah pemikiran saya tentang profesi mulia ini. Saya mendapatkan pengetahuan baru berupa pemahaman yang menyadarkan saya akan kedalaman berpikir Ki Hajar Dewantara tentang ilmu pendidikan yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Ternyata Ki Hajar Dewantara telah meletakkan pondasi pendidikan yang begitu kuat untuk generasi Indonesia. Pondasi pendidikan itu lebih dahulu disadari keampuhannya oleh Negara Finlandia sehingga sistem pendidikan Finlandia ditahbiskan sebagai sistem pendidikan terbaik di dunia. Sangat disayangkan, Indonesia sebagai pemilik asset pemikiran berharga ini justru mengadopsi sistem pendidikan Barat yang lebih berfokus pada pendalaman materi dan memberikan sedikit ruang bagi pengembangan kodrat anak. Namun dengan adanya Program Guru Penggerak ini pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan mulai diangkat kembali dan diminta untuk diterapkan di kelas-kelas seluruh Indonesia. Secercah harapan ini menggugah semangat saya untuk terus mengabdi di dunia pendidikan.

Selain pengetahuan baru, saya juga mendapat pengalaman baru dalam kegiatan Guru Penggerak ini. Pengalaman baru yang selama ini menjadi impian saya untuk bisa berkolaborasi dengan guru berbagai jenjang pendidikan, saling memotivasi, saling memberikan ide untuk menyelesaikan tugas-tugas kegiatan. Kolaborasi untuk menciptakan hal baru itu sangat menyenangkan. Saya menyebutnya collaborate to co-create.

Kegiatan Guru Penggerak ini menyadarkan saya akan kekuatan saya, yaitu saya telah melaksanakan pembelajaran yang berfokus pada siswa. Ya, walaupun tidak setiap hari saya melaksanakannya, namun setidaknya ada rasa bahagia karena pemikiran KHD yang saat ini diistilahkan dengan 'merdeka belajar' sudah saya terapkan. Semangat dalam diri makin membara untuk memberikan pengalaman belajar yang konkret dan bermakna bagi siswa.

Kekuatan lain dari pemikiran KHD yang sudah saya terapkan yaitu saya rutin menghubungkan materi pelajaran dengan agama agar qalbu siswa tersambung dengan Tuhan, agar siswa tahu jalan untuk menjadi manusia yang selamat dan bahagia. Tentang hal ini sejalan dengan tuntunan agama saya yaitu Islam, bahwa ilmu hendaknya membawa manusia makin dekat pada Tuhannya. Misalnya dalam pembelajaran tentang kegiatan ekonomi dan wirausaha di Tema 5 (saya mengajar kelas 6) yang menjelaskan tentang produksi, distribusi, dan konsumsi.. Saya kaitkan materi tersebut dengan profesi Rasulullah yang juga seorang pedagang. Saya ceritakan bahwa Rasululah adalah seorang yang kaya-raya namun seluruh hartanya di-infaq-kan untuk ummat. Saya jelaskan juga bahwa cara untuk menjadi kaya melalui perdagangan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Hal ini sejalan dengan tujuan profil Pelajar Pancasila, Mandiri.

Untuk mendidik siswa menjadi manusia mandiri yang berdikari, teori saja tidaklah cukup. Harus ada tindakan nyata bagaimana cara menjadi mandiri dan berdikari. Oleh sebab itu saya ajarkan siswa saya untuk menjadi pengusaha (entrepeneurship). Apakah ini menyita waktu belajar siswa? Tentu saja tidak. Justru ini sejalan dengan pembelajaran di Tema 5 yang berjudul Wirausaha. Siswa mendapatkan materi bagaimana cara menentukan barang dagangan yang dijamin laris, bagaimana beriklan, bagaimana mencatat cash and flow, bagaimana pola pikir yang menjadi penyebab seseorang menjadi kaya, bagaimana mengelola uang (literasi finansial).

Selain hal tersebut, perubahan konkret yang saya dan rekan saya lakukan di sekolah adalah berkolaborasi mengaktifkan kembali perpustakaan yang sudah lama mati suri. Selama ini siswa dilarang meminjam buku perpustakaan karena dianggap membuat susunan buku menjadi berantakan sehingga keadaan tersebut menjadi polusi visual. Ruang perpustakaan seakan menjadi pemanis saja. Namun kini siswa sudah bisa memanfaatkan buku-buku di perpustakaan. Kami memberdayakan siswa kelas 5 dan 6 untuk bergantian menjadi petugas perpustakaan.

Berbicara tentang kolaborasi, hal inilah yang perlu saya tingkatkan lagi. Sekolah kami adalah sekolah pinggiran yang terakreditasi C. Kolaborasi saya dengan rekan sejawat di sekolah belum menghasilkan perubahan yang spektakuler. Kolaborasi pihak sekolah dengan walimurid masih sangat minim. Melalui program Guru Penggerak ini kami dituntut untuk menguatkan kolaborasi untuk menghasilkan perubahan yang lebih baik lagi untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang diinginkan oleh KHD.

Saya bersyukur memiliki kesempatan bergabung dengan program Guru Penggerak karena saya mendapat banyak inspirasi dan manfaat dari kegiatan ini.

Semoga pendidikan Indonesia makin bergerak maju, sebab ketika Guru Bergerak maka Indonesia akan Maju.

Salam Guru penggerak!


Filosofi Pemikiran KHD tentang Pendidikan




Selasa, 02 November 2021

Hari Istimewa Sahabat

 Hari ini tepatnya 1 November adalah hari istimewa sahabat saya dari luar negeri, Mesir. Sahabat saya ini pernah stay di Indonesia selama 2 bulan. Cukup lama. Dia menghabiskan waktunya di Indonesia untuk memimpin shalat tarawih di salah satu masjid di Kota Malang.

Selain memimpin shalat tarawih, dia juga mengajar alquran di tempat tinggalnya. Purna tugas, dia traveling beberapa kota di Indonesia, termasuk ke kota tempat tinggal saya. 

Selamat hari lahir, Sahabat.. Semoga hidupmu berkelimpahan dan bahagia.





Senin, 01 November 2021

Salam Sapa Setelah Sekian Lama

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh 

Blog ini dibuat tahun 2018 namun tak pernah disentuh lagi setelahnya. Ada beberapa blog lain yang juga pernah dibuat, diisi, namun setelah itu terlupakan. Contohnya blog tentang UN ini.

Ada juga blog pribadi lain yang saya sendiri lupa alamatnya 😄

 Konsistensi memang butuh usaha.

Ada beberapa penyebab yang membuatnya terlupakan, dan penyebab itu karena terlalu banyaknya akhirnya mengerucut menjadi sebuah alasan, M A L A S.

Rasa malas harus dilawan. Mulai saat ini aku harus melawan rasa malas menulisku, karena sesungguhnya "Dengan Menulis Aku Ada."