Jumat, 19 November 2021

Apa yang Kau Dapat dari Pendidikan Guru Penggerak? (Part 2)

Salam Bahagia, Semoga Keselamatan dan Rahmat Allah untuk Para Pembaca Sekalian..

Terhitung satu bulan sudah kami digembleng di kawah candradimuka Pendidikan Guru Penggerak. Semakin banyak yang didapatkan, semakin sadar Penulis bahwa ilmu Allah tentang pendidikan formal masih banyak yang harus dipelajari. Hasil dari pendidikan yang masih berlangsung akan Penulis bagikan secara berkala di blog ini. Maka ikuti terus ya.. 😊 

1. Pemahaman yang Makin Dalam tentang Pendidikan

Secara umum, definisi pendidikan menurut UU RI No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I, Ketentuan Umum Pasal 1, No.1 merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 

Berangkat dari definisi tersebut dapat kita tarik garis besar bahwa pendidikan itu merupakan sebuah pekerjaan yang membuat guru menjadi desainer suatu peristiwa yang bertujuan agar siswa mendapat pengalaman belajar secara utuh. Peristiwa yang didesain guru bukanlah peristiwa yang tanpa makna, namun sebuah peristiwa yang melatih  cipta, rasa karsa, dan karya dalam diri siswa. Siswa secara sengaja dibuat bisa mengambil makna positif dari setiap peristiwa yang dirancang guru.

Di dalam peristiwa yang dirancang secara sengaja tersebut, Guru harus menanamkan nilai penting dalam diri siswa agar menjadi manusia yang merdeka, agar hidup siswa di masa depan kelak menjadi manusia yang dapat menghidupi dirinya secara lahir dan batin tanpa bergantung pada manusia lainnya (mandiri dan berdikari -berdiri di atas kaki sendiri-. Sungguh beratlah sebenarnya menjadi merdeka itu, karena selain harus mampu mengatur diri sendiri juga harus mengatur agar kemerdekaan diri tidak mengganggu kemerdekaan manusia merdeka lainnya. Guru harus secara sengaja menghidupkan nilai dalam batin siswa tentang adanya Dzat yang dapat menopang kehidupannya yang bernama Tuhan. Guru juga harus mampu membangkitkan rasa kesadaran dalam diri siswa untuk senantiasa berbuat baik pada manusia lain dan lingkungan sekitarnya, yang kita kenal sebagai akhlak atau budi perkerti baik. Produk dari sebuah pendidikan yang baik dapat dilihat dari baiknya siswa. 

Dilihat dari tiga paragraf di atas, sedemikian nampaklah bahwa sungguh berat beban yang dipikul seseorang bertitel GURU. Ada tanggung jawab besar yang harus dipikul. Kebagusan akhlak dan kemandirian sebuah bangsa terletak pada bagaimana cara guru di negeri tersebut mendidik siswanya.  Oleh karena beban berat itulah maka dibuatlah sebuah panduan bernama kurikulum pendidikan. Di dalam kurikulum pendidikan dijabarkan apa saja beban belajar yang harus dilalui siswa agar mencapai kompetensi-kompetemsi tertentu, baik kompetensi secara kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Mari kita cek fakta pendidikan pada diri kita sebagai guru dengan menjawab pertanyaan berikut! Izinkan penulis menggunakan kata Anda. Bukan untuk menghakimi, namun semata agar mudah masuk ke dalam diri kita sendiri dan melakukan introspeksi.
  1. Apakah Anda sudah merancang peristiwa di dalam kelas dan sekolah yang dapat membangkitkan rasa sadar sebagai hamba pada diri siswa? 
  2. Apakah Anda sudah merancang peristiwa di dalam kelas dan sekolah yang dapat melatih kecerdasan dan potensi siswa?
  3. Apakah di dalam kelas dan sekolah Anda sudah melatih keterampilan yang dibutuhkan siswa untuk hidupnya kelak?
  4. Apakah Anda hanya berbicara dan berceramah saja pada siswa saat mengajar?
Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut Anda jawab dengan kata YA, maka Penulis ucapkan selamat, Anda benar-benar guru sejati yang dibutuhkan negeri ini. Namun jika jawabannya adalah BELUM, mari bersama-sama kita akui kesalahan kita dan berkolaborasi memperbaiki sistem pendidikan di sekolah kita. 

Menurut Ki Hajar Dewantara, untuk bisa memberikan pendidikan dan pengajaran terbaik, guru harus menguasai 5 ilmu:
  1. ilmu hidup batin (psikologis)
  2. ilmu hidup jasmani (fisiologis)
  3. ilmu kesopanan (etika)
  4. ilmu keindahan (estetika)
  5. ilmu pendidikan (paedagogis)

2. Nilai dan Peran Seorang Guru Penggerak

Kita sebagai guru berperan besar dalam memberikan bekal kehidupan pada diri siswa. Segala perlakuan yang kita lakukan di kelas dan sekolah akan membekas dalam ingatan dan sanubari siswa. Atau bahkan hilang sama sekali, tak berbekas. Kita berperan dalam membentuk akhlak siswa. Bantuan kita berperan besar bagi siswa dalam menemukan jati diri mereka. Kita turut andil dalam membentuk siswa menjadi versi terbaik mereka.

Bagaimana cara memasukkan pendidikan karakter pada siswa hingga ke tingkat DNA-nya? Ada beberapa cara yang telah dilaksanakan oleh Penulis. Pembaca boleh mengritisi dan menambahkan di kolom komentar.
a. ketahui cara kerja otak kanan dan kiri lalu manfaatkan
b. ketahui bagian-bagian otak manusia lalu manfaatkan
c. bermainlah dengan sistem limbik siswa lalu perlahan-lahan beralih ke neocortex

Ada banyak faktor yang memengaruhi pendidikan dan pembelajaran. Pembahasan ini membutuhkan halaman khusus, in syaa Allah akan penulis up date di postingan berikutnya. Ikuti terus blog ini ya 😉 

Dalam penggemblengan sebagai Guru Penggerak, para Calon Guru Penggerak (CGP) dilatih secara sengaja untuk menyadari nilai dan peran mereka. Adapun nilai dan peran Guru Penggerak adalah sebagai berikut:


Sumber: Modul Pendidikan Guru Penggerak

Secara hierarchichal atau berurutan, nilai yang harus ada dalam diri Guru Penggerak:
  1. Berpihak pada murid
  2. Mandiri
  3. Inovatif
  4. Kolaboratif
  5. Reflektif
Secara hierarchichal atau berurutan, peran yang harus disadari dan dipraktikkan oleh Guru Penggerak:
  1. Mewujudkan kepemimpinan murid
  2. Menjadi pemimpin pembelajaran
  3. Mendorong kolaborasi
  4. Menggerakkan komunitas praktisi
  5. Menjadi coach bagi guru lain
Kiranya sangat berhubunganlah antara Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Nilai dan Peran Guru Penggerak ini. Sebab Nilai dan peran Guru Penggerak dikembangkan dari Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara yang mengandung makna dalam bagi pendidikan di Indonesia.
Seorang Guru Penggerak harus bisa memerdekakan dirinya terlebih dahulu, terutama dalam kaitannya dengan belajar, sebab guru penggerak yang merdeka mampu berpihak pada murid, mampu  berinovasi, berkolaborasi dan berefleksi. Jika seorang Guru Penggerak berkepribadian yang lemah seperti rendah diri, bagaimana dia hendak mengajarkan kemerdekaan pada muridnya?

Guru Penggerak yang sudah paham pada nilai dirinya, hendaknya dia berperan dalam mewujudkan kepemimpinan pada siswanya, menjadi pemimpin pembelajaran yang memfasilitasi siswa, mendorong kolaborasi antar-siswa, antar-guru, bahkan hingga ke tingkat kolaborasi antar-lembaga. Wah, ini sesuatu yang menakjubkan! Guru Penggerak seyogyanya juga bisa menggerakkan komunitas praktisi bidang pendidikan untuk melakukan perbaikan, bersama-sama mengembangkan pendidikan dan menemukan inovasi pembelajaran, minimal di sekolahnya, lalu menjadi coach bagi guru lain menularkan apa yang sudah dia dapatkan dari Pendidikan Guru Penggerak.

Tujuan akhir dari Pendidikan Guru Penggerak adalah terbentuknya Profil Pelajar Pancasila pada siswa seluruh Indonesia di masa mendatang. Sudah saatnya para insan pendidikan saling berkolaborasi, mulai guru penggerak, rekan sejawat, Kepala Sekolah, Pengawas, Dinas Pendidikan, Walimurid, dan seluruh stakeholder pendidikan. Kolaborasi positif akan mempercepat terwujudnya Profil Pelajar Pancasila dan insan Indonesia yang lebih baik. Semoga!


Profil Pelajar Pancasila
Sumber: Modul Pendidikan Guru Penggerak



Untuk berkolaborasi menuju perbaikan pendidikan, penulis dapat dihubungi di Telegram @my_farishta. Bersama kita rancang dan bergerak bagaimana mewujudkan Profil Pelajar yang sesuai dengan Pancasila.


2 komentar:

  1. Alhamdulillah melalui tulisan ibu Farista, saya mendapat ilmu,sangat bermanfaat sekali.

    BalasHapus
  2. Semoga kita bisa belajar untuk menumbuhkan suasana dan kondisi yang dapat membelajarkan siswa sehingga menjadi siswa yang berkarakter pancasila

    BalasHapus