(Refleksi Terbimbing, kode 1.1.a.6)
Salam Guru Penggerak!
Guru Bergerak, Indonesia Maju!
Selain pengetahuan baru, saya juga mendapat pengalaman baru dalam kegiatan Guru Penggerak ini. Pengalaman baru yang selama ini menjadi impian saya untuk bisa berkolaborasi dengan guru berbagai jenjang pendidikan, saling memotivasi, saling memberikan ide untuk menyelesaikan tugas-tugas kegiatan. Kolaborasi untuk menciptakan hal baru itu sangat menyenangkan. Saya menyebutnya collaborate to co-create.
Kegiatan Guru Penggerak ini menyadarkan saya akan kekuatan saya, yaitu saya telah melaksanakan pembelajaran yang berfokus pada siswa. Ya, walaupun tidak setiap hari saya melaksanakannya, namun setidaknya ada rasa bahagia karena pemikiran KHD yang saat ini diistilahkan dengan 'merdeka belajar' sudah saya terapkan. Semangat dalam diri makin membara untuk memberikan pengalaman belajar yang konkret dan bermakna bagi siswa.
Kekuatan lain dari pemikiran KHD yang sudah saya terapkan yaitu saya rutin menghubungkan materi pelajaran dengan agama agar qalbu siswa tersambung dengan Tuhan, agar siswa tahu jalan untuk menjadi manusia yang selamat dan bahagia. Tentang hal ini sejalan dengan tuntunan agama saya yaitu Islam, bahwa ilmu hendaknya membawa manusia makin dekat pada Tuhannya. Misalnya dalam pembelajaran tentang kegiatan ekonomi dan wirausaha di Tema 5 (saya mengajar kelas 6) yang menjelaskan tentang produksi, distribusi, dan konsumsi.. Saya kaitkan materi tersebut dengan profesi Rasulullah yang juga seorang pedagang. Saya ceritakan bahwa Rasululah adalah seorang yang kaya-raya namun seluruh hartanya di-infaq-kan untuk ummat. Saya jelaskan juga bahwa cara untuk menjadi kaya melalui perdagangan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Hal ini sejalan dengan tujuan profil Pelajar Pancasila, Mandiri.
Untuk mendidik siswa menjadi manusia mandiri yang berdikari, teori saja tidaklah cukup. Harus ada tindakan nyata bagaimana cara menjadi mandiri dan berdikari. Oleh sebab itu saya ajarkan siswa saya untuk menjadi pengusaha (entrepeneurship). Apakah ini menyita waktu belajar siswa? Tentu saja tidak. Justru ini sejalan dengan pembelajaran di Tema 5 yang berjudul Wirausaha. Siswa mendapatkan materi bagaimana cara menentukan barang dagangan yang dijamin laris, bagaimana beriklan, bagaimana mencatat cash and flow, bagaimana pola pikir yang menjadi penyebab seseorang menjadi kaya, bagaimana mengelola uang (literasi finansial).
Selain hal tersebut, perubahan konkret yang saya dan rekan saya lakukan di sekolah adalah berkolaborasi mengaktifkan kembali perpustakaan yang sudah lama mati suri. Selama ini siswa dilarang meminjam buku perpustakaan karena dianggap membuat susunan buku menjadi berantakan sehingga keadaan tersebut menjadi polusi visual. Ruang perpustakaan seakan menjadi pemanis saja. Namun kini siswa sudah bisa memanfaatkan buku-buku di perpustakaan. Kami memberdayakan siswa kelas 5 dan 6 untuk bergantian menjadi petugas perpustakaan.
Berbicara tentang kolaborasi, hal inilah yang perlu saya tingkatkan lagi. Sekolah kami adalah sekolah pinggiran yang terakreditasi C. Kolaborasi saya dengan rekan sejawat di sekolah belum menghasilkan perubahan yang spektakuler. Kolaborasi pihak sekolah dengan walimurid masih sangat minim. Melalui program Guru Penggerak ini kami dituntut untuk menguatkan kolaborasi untuk menghasilkan perubahan yang lebih baik lagi untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang diinginkan oleh KHD.
Saya bersyukur memiliki kesempatan bergabung dengan program Guru Penggerak karena saya mendapat banyak inspirasi dan manfaat dari kegiatan ini.
Semoga pendidikan Indonesia makin bergerak maju, sebab ketika Guru Bergerak maka Indonesia akan Maju.
Salam Guru penggerak!
Alhamdulillah, Dapat Ilmu baru dari Ibu Farista, sangat Bermanfaat, Semoga selalu Semangat ya bu 🙏🏻
BalasHapusTerima kasih, Bu Retno.. Mari saling memotivasi 🙂
HapusSemangat dan terus berkarya bu
BalasHapusTerima kasih bu noviliterasi.. suntikan semangat baru, nihh..
HapusLuar biasa...
BalasHapusTerima kasih pak alee atas motivasinya 🙂
HapusGood job n inspirator
BalasHapusThanks in advance 🙂
HapusSangat setuju Bu Prof. Kita telah latah meniru gaya pendidikan di Finlandia. Padahal Bapak pendidikan kita, jauuh sebelum kemerdekaan telah merumuskan banyak hal yang saat ini kita ajarkan ke anak didik. Salam dari adik tercinta di ujung kota.
BalasHapusLayak jadi buku Mbak. Semua ulasannya menginspirasi 😍
BalasHapus